Rabu, 19 Mei 2010

Contoh Makalah K3

K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
3 Votes

K3 atau yang dikenal sebagai keselamatan dan kesehatan kerja sudah banyak diterapkan hampir diseluruh perusahaan. peraturan pemerintah, dan manajemen kualitas dari setiap perusahaan atau tempat kerja mulai menanamkan program ini. sebenarnya K3 memang penting untuk diterapkan apalagi jika para stake holder dan pihak perusahaan melihat lebih jauh mengenai keuntungan jangka panjang.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan.
K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.
Tiga aspek utama hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif.
Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.
Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya. K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain.
Norma kerja berkaitan dengan manajemen perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja.
Eksistensi K3 sebenarnya muncul bersamaan dengan revolusi industri di Eropa, terutama Inggris, Jerman dan Prancis serta revolusi industri di Amerika Serikat. Era ini ditandai adanya pergeseran besar-besaran dalam penggunaan mesin-mesin produksi menggantikan tenaga kerja manusia.
Pekerja hanya berperan sebagai operator. Penggunaan mesin-mesin menghasilkan barang-barang dalam jumlah berlipat ganda dibandingkan dengan yang dikerjakan pekerja sebelumnya.

Namun, dampak penggunaan mesin-mesin adalah pengangguran serta risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja. Ini dapat menyebabkan cacat fisik dan kematian bagi pekerja. Juga dapat menimbulkan kerugian material yang besar bagi perusahaan. Revolusi industri juga ditandai oleh semakin banyak ditemukan senyawa-senyawa kimia yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik dan jiwa pekerja (occupational accident) serta masyarakat dan lingkungan hidup.

Pada awal revolusi industri, K3 belum menjadi bagian integral dalam perusahaan. Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai kecelakaan atau resiko kerja (personal risk), bukan tanggung jawab perusahaan. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian), fellow servant rule (ketentuan kepegawaian), dan risk assumption (asumsi resiko) (Tono, Muhammad: 2002). Kemudian konsep ini berkembang menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha, buruh/pekerja, dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan kerja.

Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3 sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. Misalnya, pada 1908 parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement, Staatsblad No. 406 Tahun 1910.
Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah berdasarkan masing-masing sektor ekonomi.

Beberapa di antaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam Algemene Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia (Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. 334, Schepelingen Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut), Staatsblad 1930 No. 225, Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja), dan sebagainya.
K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan masalah K3. Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1070 tentang Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja, UU No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai norma kerja. Setiap tempat kerja atau perusahaan harus melaksanakan program K3. Tempat kerja dimaksud berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan tanah, dalam air, di udara maupun di ruang angkasa.

Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan sektor/bidang usaha. Misalnya, UU No. 13 Tahun 1992 tentang Perkerataapian, UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Selain sekor perhubungan di atas, regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektor-sektor lain seperti pertambangan, konstruksi, pertanian, industri manufaktur (pabrik), perikanan, dan lain-lain.
Di era globalisasi saat ini, pembangunan nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global seperti hak-hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan buruh. Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga mencakup kualitas pelayanan dan jasa.

Banyak perusahaan multinasional hanya mau berinvestasi di suatu negara jika negara bersangkutan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Juga kepekaan terhadap kaum pekerja dan masyarakat miskin. Karena itu bukan mustahil jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3, menempatkan ini pada urutan pertama sebagai syarat investasi.


K3 ke 2

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
Posted on March 7th, 2009 mohammadsholeh No comments
PENDAHULUAN
Suatu perusahaan yg aman adalah perusahaan yg teratur dan terpelihara dg baik & cepat menjadi terkenal sbg tempat naungan buruh yg baik
Program keselamatan kerja yg baik adalah program yg terpadu dg pekerjaan sehari-hari (rutin), sehg sukar utk dipisahkan satu sama lainnya
Pelajaran ini dimaksudkan utk memberi bimbingan kearah pencegahan kecelakaan pd waktu kita bekerja, pertolongan pertama pd kecelakaan dll
Jenis keselamatan kerja
1. Keselamatan kerja dalam industri (Industrial Safety)
2. Keselamatan kerja di pertambangan (Mining Safety)
3. Keselamatan kerja dalam bangunan (Building & Construction Safety)
4. Keselamatan kerja lalu lintas (Traffic Safety
5. Keselamatan kerja penerbangan (Fligh Safety)
6. Keselamatan kerja kereta api (Railway Safety)
7. Keselamatan kerja di rumah (Home Safety)
8. Keselamatan kerja di kantor (Office Safety)
Arti dan tujuan keselamatan kerja
Menjamin keadaan, keutuhan & kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah Manusia serta Hasil Karya & Budayanya, tertuju pd Kesejahteraan Masyarakat pd umumnya & manusia pd khususnya
Yg dimaksud keselamatan kerja
Ialah keselamatan yg berhubungan dg peralatan, tempat kerja & lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan
Tujuan keselamatan kerja
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dlm melaksanakan pekerjaan
2. Menjamin keselamatan setiap orang yg berada di tempat kerja
3. Sumber produksi dipelihara & dipergunakan secara aman & efisien
Sasaran keselamatan kerja
1. Mencegah terjadinya kecelakaan
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat pekerjaan
3. Mencegah/mengurangi kematian
4. Mencegah/mengurangi cacat tetap
5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat2 kerja, mesin2, pesawat2, instalasi2 dsbg
6. Meningkatkan produktifitas kerja tanpa memeras tenaga kerja & menjamin kehidupan produktifnya
7. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat2 & sumber2 produksi lainnya sewaktukerja dsbgnya
8. Menjamin tempat kerja yg sehat, bersih, nyaman & aman shg dpt menimbulkan kegembiraan semangat kerja
9. Memperlancar, meningkatkan & mengamankan produksi, industri serta pembangunan
Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dpt dicegah
1. Peraturan perundangan
2. Standarisasi
3. Pengawasan
4. Penelitian bersifat teknis
5. Riset medis
6. Penelitian psikologis
7. Penelitian secara statistik
8. Pendidikan & latihan2
9. Penggairahan
10. Asuransi, &
11. Usaha keselamatan pd tingkat perusahaan
Tenaga kerja ?
Adalah tiap orang yg mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Catatan : Arti tenaga kerja disini sangatlah luas, meliputi semua pejabat negara seperti Presiden, MPR, DPR, TNI, pengusaha, buruh, pekerja dsb
Tempat kerja
Ialah ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya, termasuk tempat kerja ; semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yg merupakan bagian atau yg berhubungan dg tempat kerja tsb
Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam tanah & air serta udara
Pekerja harus !
1. Menaati peraturan dan instruksi
2. Memperhatikan instruksi untuk bekerja benar dan aman
3. Bertindak benar, tepat pada waktu terjadi kecelakaan
4. Segera melapor kepada instruktur bila terjadi kecelakaan
5. Menerangkan penyebab terjadinya kecelakaan atau kerusakan
Syarat-syarat keselamatan kerja
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yg berbahaya
e. Memberi pertolongan pada kecelakaan
f. Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja
g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca sinar atau radiasi, suara dan getaran
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya
penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan infeksi dan penularan
i. Memperoleh penerangan yg cukup & sesuai
J. Menyelenggarakan udara yg cukup
k. Menyelenggarakan suhu & lembab udara yg baik
l. Memelihara kebersihan, keselamatan & kebersihan
m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja dan alat kerja
n. Mengamankan & memperlancar pengangkutan orang, hewan, tanaman dan barang
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang
q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
r. Menyesuaikan dan mempergunakan pengamanan pada pekerjaan yg berbahaya
Pengaruh buruk lingkungan terhadap keselamatan kerja
Perkembangan dan kemajuan industri mengakibatkan bertambahnya pencemaran lingkungan
Pencemaran tersebut adalah akibat pembuangan sisa-sisa pabrik selama atau sesudah proses industri berlangsung
Buangan ini dapat berbentuk gas, air, padat, panas, radiasi, bunyi dll
Pada permulaan perkembangan industri belum terasa pengaruh buruk yg timbul. Akan tetapi makin lama makin terasa kerugian-kerugian yg ditimbulkan akibat makin banyaknya zat buangan dari pabrik-pabrik (Industri)
Pabrik-pabrik membuang kotoran & zat-zat kimia ke sungai. Sungai tercemar yg mengakibatkan kehidupan ganggang, ikan & hewan-hewan terganggu dan seterusnya mempengaruhi penyediaan makanan bagi umat manusia
Pengotoran udara menyebabkan kesehatan manusia terganggu. Begitu pula tumbuh-tumbuhan dapat dirusak oleh gas-gas buangan tersebut. Menurut pengalaman, pengotoran air dan udaralah yag paling buruk bagi kesehatan makhluk yg hidup
Seperti pepatah mengatakan, ‘lebih baik mencegah daripada mengobatinya’, begitu pula dengan pencemaran, lebih baik mencegahnya daripada memperbaiki yg diakibatkannya. Akibat dari pencemaran industri menjadi sangat serius, sehingga setiap pencemaran yg dilakukannya lambat atau cepat harus dibayar akibatnya
Pada dasarnya pemulihan kerusakan oleh pencemaran industri memakan waktu yg lama & biaya yg besar. Oleh karena itu adalah lebih baik kita memikirkan hal tersebut, jauh-jauh sebelum terlanjur, agar dengan mempergunakan pengalaman negari-negara lain yg perindustriannya lebih maju kita dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg industrinya telah berkembang


Ke 3

Intro to OHS (K3) Hendra-2000
I. Pengertian dasar/definisi K3 (Occupational Health and Safety)
Definisi tentang K3 adalah yang dirumuskan oleh ILO/WHO Joint safety and Health
Committee, yaitu :
Occupational Health and Safety is the promotion and maintenance of the highest
degree of physical, mental and social well-being of all occupation; the prevention
among workers of departures from health caused by their working conditions; the
protection of workers in their employment from risk resulting from factors adverse to
health; the placing and maintenance of the worker in an occupational environment
adapted to his physiological and psychological equipment and to summarize the
adaptation of work to man and each man to his job.
Bila dicermati definisi K3 di atas maka definisi tersebut dapat dipilah-pilah dalam beberapa
kalimat yang menunjukkan bahwa K3 adalah :
a. Promosi dan memelihara deraja tertinggi semua pekerja baik secara fisik, mental, dan
kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan.
b. Untuk mencegah penurunan kesehatan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh
kondisi pekerjaan mereka.
c. Melindungi pekerja pada setiap pekerjaan dari risiko yang timbul dari faktor-faktor
yang dapat mengganggu kesehatan.
d. Penempatan dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi
fisologis dan psikologis pekerja dan untuk menciptakan kesesuaian antara pekerjaan
dengan pekerja dan setiap orang dengan tugasnya.
Dari pengertian di atas dapat diambil suatu tujuan dari K3 yaitu untuk menjaga dan
meningkatkan status kesehatan pekerja pada tingkat yang tinggi dan terbebas dari faktorfaktor
di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.
Definisi K3 yang dirumuskan oleh ILO dan WHO dapat ditelaah dengan menggunakan
sistematika 4W (What, Who, When, Where) dan 1 H (How).
What
Kata “what” berarti apa atau apakah. Dalam konteks pembahasan ini sesuai dengan definisi
di atas maka yang dimaksud dengan what adalah apa yang menjadi perhatian dalam
keilmuan K3. Dari definisi di atas terlihat konsern K3 yang dirumuskan lebih memperhatikan
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
aspek kesehatan dengan penekanan terhadap pengendalian terhadap potensi-potensi
hazard yang ada di lingkungan kerja. Pada definisi di atas juga terlihat sedikit mengenai
aspek keserasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerja (aspek ergonomic).
Who
Pada definisi di atas yang dimaksud dengan “who” adalah semua pekerja yang berada di
tempat kerja mulai dari level tertingi dalam manajemen sampai level terendah. Aspek yang
diperhatikan meliputi fisik, mental dan kesejahteraan sosial.
When
Bila merujuk pada definisi di atas yang mana terdapat kata promotion, prevention, protection,
dan maintenance, menunjukkan bahwa K3 dalam penerapannya dilakukan di semua tahapan
proses. Tahapan yang dimaksud misalnya tahap disain (preventif dan promotif), tahap proses
berjalan (protection dan maintenance) serta dapat dilakukan pada saat pasca operasi
khusunya untuk penanganan masalah keselamatan dan kesehatan produk dan masalah
limbah produksi.
Where
Where yang berarti di mana pada definisi di atas berarti tempat di mana K3 harus di jalankan
atau dilaksanakan. Bila merujuk pada definisi di atas, maka tempat penerapan K3 adalah
pada setiap pekerjaan di lingkungan kerja.
How
How yang berarti bagaimana maksudnya adalah bagaimana metode untuk melaksanakan K3
di lingkungan kerja pada semua jenis pekerjaan. Terlihat bahwa penerapan K3 menurut
ILO/WHO adalah dengan melakukan promotive, preventive, protective, maintenance dan
adaptative.
Bila dikaji lebih dalam tentang definisi K3 oleh ILO/WHO maka dapat dilihat beberapa hal :
1. Aspek K3 bukan hanya masalah yang berkaitan dengan kesehatan pekerja di tempat
kerja, tapi K3 juga mencakup aspek keselamatan yang berdampak terhadap
timbulnya loss di tempat kerja baik orang, peralatan, lingkungan maupun finansial.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
2. Definisi diatas tidak menggambarkan basik keilmuan yang mendasari keilmuan K3,
semestinya suatu defini harus mempunyai struktur keilmuan (body of knowledge)
yang membangun keilmuan tersebut.
Bila dibandingkan dengan definisi K3 yang dikeluarkan oleh OSHA, yaitu :
Occupational Health and Safety concerns the application of scientific principles in
understanding the nature of risk to the safety of people and property in both industrial
and non industrial environments. It is multi-disciplinary profession based upon
physics, chemistry, biology, and the behavioral sciencies with applications in
manufacturing, transport, storage, and handling of hazardous materials and domestic
and recreational activities.
Pada definisi yang dikemukakan oleh OSHA, terlihat bahwa K3 merupakan multi
disiplin yang dikembangkan dari keilmuan fisika, kimia, biology dan ilmu-ilmu perilaku.
3. Definisi K3 menurut ILO/WHO penerapannya hanya terbatas pada pekerja,
sedangkan K3 bukan hanya dilaksanakan di tempat kerja, tapi sudah mencakup
aspek-aspek yang sifatnya bagi masyarakat umum.
4. Definisi K3 dari ILO/WHO sudah mencakup dan memandang pentingnya keserasian
antara pekerjaan dengan pekerja baik secara fisiologis maupun psikologis.
(Penerapan konsep ergonomi)
5. Definisi di atas belum menyentuh aspek ilmu perilaku (behavioral sciences) yang
mana pada kenyataannya aspek perilaku pekerja merupakan faktor terbesar yang
mempunyai kontribusi terhadap timbulnya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Bila digunakan pendekatan lain yang mendasari suatau definisi keilmuan, maka sebaiknya
definisi K3 harus mencakup :
a. Body of Knowledge
b. Methodology
c. Goal and Objective
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
Dengan menggunakan pendekatan ini maka definisi yang dikemukakan oleh ILO/WHO perlu
disempurnakan dengan memasukkan aspek body of knowledge seperti yang tercantum
dalam definisi K3 menurut OSHA. Unsur metodologi yang dimiliki oleh suatu keilmuan
sebaiknya jelas secara ekplisit terlihat pada definisi. Untuk definisi K3 dari ILO/WHO katakata
promotion, prevention, protection, and maintenanance dapat kita katakan sebagai
metode yang dikembangkan dalam keilmuan tersebut.
Sedangkan untuk aspek goal dan objective suatu keilmuan terlihat jelas pada definisi K3
yang dikeluarkan oleh ILO/WHO meskipun belum mencakup semua aspek K3 yaitu aspek
keselamatan dan kesehatan. Khusus untuk definisi K3 menurut WHO hanya aspek
kesehatan yang terlihat jelas sebagai goal dan objektif dari keilmuan K3
II. Sejarah perkembangan K3
Sejarah perkembangan K3 mulai dari zaman pra-sejarah sampai dengan zaman modern
sekarang secara ringkas adalah sebagai berikut :
a. Zaman Pra-Sejarah
Pada zaman batu dan goa (Paleolithic dan Neolithic) dimana manusia yang hidup pada
zaman ini telah mulai membuat kapak dan tombak yang mudah untuk digunakan serta
tidak membahayakan bagi mereka saat digunakan. Disain tombak dan kapak yang
mereka buat umumnya mempunyai bentuk yang lebh besar proporsinya pada mata kapak
atau ujung tombak. Hal ini adalah untuk menggunakan kapak atau tombak tersebut tidak
memerlukan tenaga yang besar karena dengan sedikit ayunan momentum yang
dihasilkan cukup besar. Disain yang mengecil pada pegangan dimaksudkan untuk tidak
membahayakan bagi pemakai saat mengayunkan kapak tersebut.
b. Zaman Bangsa Babylonia (Dinasti Summeria) di Irak
Pada era ini masyarakat sudah mencoba membuat sarung kapak agar aman dan tidak
membahayakan bagi orang yang membawanya. Pada masa ini masyarakat sudah
mengenal berbagai macam peralatan yang digunakan untuk membantu pekerjaan
mereka. Dan semakin berkembang setelah ditemukannya tembaga dan suasa sekitar
3000-2500 BC. Pada tahun 3400 BC masyarakat sudah mengenal konstruksi dengan
menggunakan batubata yang dibuat proses pengeringan oleh sinar matahari. Pada era ini
masyarakat sudah membangunan saluran air dari batu sebagai fasilitas sanitasi.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
Pada tahun 2000 BC muncul suatu peraturan “Hammurabi” yang menjadi dasar adanya
kompensasi asuransi bagi pekerja.
c. Zaman Mesir Kuno
Pada masa ini terutama pada masa berkuasanya Fir’aun banyak sekali dilakukan
pekerjaan-pekerjaan raksasa yang melibatkan banyak orang sebagai tenaga kerja. Pada
tahun 1500 BC khususnya pada masa Raja Ramses II dilakukan pekerjaan
pembangunan terusan dari Mediterania ke Laut Merah. Disamping itu Raja Ramses II
juga meminta para pekerja untuk membangun “temple” Rameuseum. Untuk menjaga
agar pekerjaannya lancar Raja Ramses II menyediakan tabib serta pelayan untuk
menjaga kesehatan para pekerjanya.
d. Zaman Yunani Kuno
Pada zaman romawi kuno tokoh yang paling terkenal adalah Hippocrates. Hippocrates
berhasil menemukan adanya penyakit tetanus pada awak kapal yang ditumpanginya.
e. Zaman Romawi
Para ahli seperti Lecretius, Martial, dan Vritivius mulai memperkenalkan adanya
gangguan kesehatan yang diakibatkan karena adanya paparan bahan-bahan toksik dari
lingkungan kerja seperti timbal dan sulfur. Pada masa pemerintahan Jendral Aleksander
Yang Agung sudah dilakukan pelayanan kesehatan bagi angkatan perang.
f. Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan sudah diberlakukan pembayaran terhadap pekerja yang
mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan cacat atau meninggal. Masyarakat
pekerja sudah mengenal akan bahaya vapour di lingkungan kerja sehingga disyaratkan
bagi pekerja yang bekerja pada lingkungan yang mengandung vapour harus
menggunakan masker.
g. Abad ke-16
Salah satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Phillipus Aureolus Theophrastus
Bombastus von Hoheinheim atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan
Paracelsus mulai memperkenalkan penyakit-penyakit akibat kerja terutama yang dialamai
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
oleh pekerja tambang. Pada era ini seorang ahli yang bernama Agricola dalam bukunya
De Re Metallica bahkan sudah mulai melakukan upaya pengendalian bahaya timbal di
pertambangan dengan menerapkan prinsip ventilasi.
h. Abad ke-18
Pada masa ini ada seorang ahli bernama Bernardino Ramazzini (1664 – 1714) dari
Universitas Modena di Italia, menulis dalam bukunya yang terkenal : Discourse on the
diseases of workers, (buku klasik ini masih sering dijadikan referensi oleh para ahli K3
sampai sekarang). Ramazzini melihat bahwa dokter-dokter pada masa itu jarang yang
melihat hubungan antara pekerjaan dan penyakit, sehingga ada kalimat yang selalu
diingat pada saat dia mendiagnosa seseorang yaitu “ What is Your occupation ?”.
ramazzini melihat bahwa ada dua faktor besar yang menyebabkan penyakit akibat kerja,
yaitu bahaya yang ada dalam bahan-bahan yang digunakan ketika bekerja dan adanya
gerakan-gerakan janggal yang dilakukan oleh para pekerja ketika bekerja (ergonomic
factors).
i. Era Revolusi Industri (Traditional Industrialization)
Pada era ini hal-hal yang turut mempengaruhi perkembangan K3 adalah :
1. Penggantian tenaga hewan dengan mesin-mesin seperti mesin uap yang baru
ditemukan sebagai sumber energi.
2. Penggunaan mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia
3. Pengenalan metode-metode baru dalam pengolahan bahan baku (khususnya
bidang industri kimia dan logam).
4. Pengorganisasian pekerjaan dalam cakupan yang lebih besar berkembangnya
industri yang ditopang oleh penggunaan mesin-mesin baru.
5. Perkembangan teknologi ini menyebabkan mulai muncul penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan pemajanan karbon dari bahan-bahan sisa pembakaran.
j. Era Industrialisasi (Modern Idustrialization)
Sejak era revolusi industri di ata samapai dengan pertengahan abad 20 maka penggnaan
teknologi semakin berkembang sehingga K3 juga mengikuti perkembangan ini.
Perkembangan pembuatan alat pelindung diri, safety devices. dan interlock dan alat-alat
pengaman lainnya juga turut berkembang.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
k. Era Manajemen dan Manjemen K3
Perkembangan era manajemen modern dimulai sejak tahun 1950-an hingga sekaran.
Perkembangan ini dimulai dengan teori Heinrich (1941) yang meneliti penyebabpenyebab
kecelakaan bahwa umumnya (85%) terjadi karena faktor manusia (unsafe act)
dan faktor kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition).
Pada era ini berkembang system automasi pada pekerjaan untuk mengatasi maslah
sulitnya melakukan perbaikan terhadap faktor manusia. Namun system otomasi
menimbulkan masalah-masalah manusiawi yang akhirnya berdampak kepada kelancaran
pekerjaan karena adanya blok-blok pekerjaan dan tidak terintegrasinya masing-masing
unit pekerjaan.
Sejalan dengan itu Frank Bird dari International Loss Control Institute (ILCI) pada tahun
1972 mengemukakan teori Loss Causation Model yang menyatakan bahwa factor
manajemen merupakan latar belakang penyebab yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan.
Berdasarkan perkembangan tersebut serta adanya kasus kecelakaan di Bhopal tahun
1984, akhirnya pada akhir abad 20 berkembanglah suatu konsep keterpaduan system
manajemen K3 yang berorientasi pada koordinasi dan efisiensi penggunaan sumber
daya. Keterpaduan semua unit-unit kerja seperti safety, health dan masalah lingkungan
dalam suatu system manajemen juga menuntut adanya kualitas yang terjamin baik dari
aspek input proses dan output. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya standar-standar
internasional seperti ISO 9000, ISO 14000 dan ISO 18000.
l. Era Mendatang
Perkembangan K3 pada masa yang akan datang tidak hanya difokuskan pada
permasalahan K3 yang ada sebatas di lingkungan industri dan pekerja. Perkembangan
K3 mulai menyentuh aspek-aspek yang sifatnya publik atau untuk masyarakat luas.
Penerapan aspek-aspek K3 mulai menyentuh segala sektor aktifitas kehidupan dan lebih
bertujuan untuk menjaga harkat dan martabat manusia serta penerapan hak asazi
manusia demi terwujudnya kualitas hidup yang tinggi. Upaya ini tentu saja lebih bayak
berorientasi kepada aspek perilaku manusia yang merupakan perwujudan aspek-aspek
K3.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000 Page 8
Secara atik perkembangan K3 dapat dilihat pad tabel berikut;
No Periode Latar Belakang Esensi Penalaran
1 Zaman Pra-Sejarah - Zaman
Bangsa Babylonia (Dinasti
Summeria) di Irak
.
.
Pada masa ini manusia masih berorientasi bagaimana
untuk bias hidup dan survive terhadap kondisi
lingkungan yang ada. Untuk membantu dalam
kehidupan mereka maka dibuatlah alat-alat bantu
terutama dalam berburu untuk mendapatkan makanan.
Atau peralatan yang memang digunakan untuk
pekerjaan-pekerjaan yang lebih banyak berorientasi
kepada upaya untuk mempertahankan kehidupan.
Peralatan yang dikembangkan hanya terbatas pada
aktifitas yang mereka lakukan. Untuk memudahkan
dalam penggunaan serta tidak membaha-yakan pada
saat digunakan maka dibuatlah disain alat-alat yang
memang enak dipakai dan tidak berbahaya bagi
pemakai saat digunakan.
Aspek yang berkembang pada era ini adalah mengenai
peralatan untuk memudahkan pekerjaan serta aspek
keamanan dari peralatan tersebut terhadap pekerja Juga
mengenai bagaimana suatu benda atau peralatan mudah
digunakan.sesuai dengan fungsinya serta aman saat
digunakan
Secara keilmuan K3 konsep yang berkembang adalah
aspek safety engineering dan ergonomic.
2 Zaman Mesir Kuno – Abad
ke 18
Dengan sudah berkembangnya peralatan yang
membantu pekerjaan manusia, namun tenaga manusia
masih merupakan yang paling dominan dalam setiap
pekerjaan. Dengan kata lain manusia atau pekerja
merupakan sumberdaya yang utama dalam
melaksanakan suatu pekerjaan. Namun kondisi
lingkungan kerja yang banyak mengandung bahaya
seperti subtansi yang toksik serta bahaya lainnya yang
dapa menggangu kesehatan pekerja, maka upaya untuk
meningkatkan kesehatan pekerja menjadi perhatian
yang besar. Disamping itu dengan banyaknya
ditemukan barang tambang maka bahaya terhadap
bahan-bahan toksik mulai dikenal serta mulai dilakukan
upaya penanggula-ngan bahaya-bahaya toksik tersebut.
Aspek yang berkembang pada era ini adalah mengenai
dampak kesehatan yang kemungkinan akan dialami oleh
pekerja pada saat bekerja maupun setelah bekerja
sebagai dampak dari bahan-bahan berbahaya yang ada di
lingkungan kerja serta upaya pengobatan atau terapi yang
sesuai.
Secara keilmuan K3 konsep yang berkembang adalah
mengenai Occupational Health, Industrial Hygiene,
Toksikologi, serta Ocupational Medicine.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000 Page 9
No Periode Latar Belakang Esensi Penalaran
3 Era Industrialisasi Mulai ditemukannya mesin uap, maka dunia industri
mulai beralih dari yang tadinya didominasi oleh tenaga
manusia yang dibantu tenaga hewan dengan cakupan
aktifitas yang terbatas, kepada penggunaan mesinmesin
di segala aktifitas kerja dengan cakupan
pekerjaan yang besar. Dengan makin bekembangnya
teknologi dalam mencip-takan mesin-mesin produksi,
manusia dihadapkan pada permasalahan baru yaitu
dampak yang timbul akibat adanya mesin di suatu
proses kerja. Masa-lah yang muncul sangat
berhubungan dengan system operasionalisasi kerja
yang dibantu dengan mesin-mesin yang canggih.
Seiring dengan kema-juan teknologi serta munculnya
permasalahan-permasalahan baru di lingkungan kerja
terutama aspek keselamatan dan kesehatan pekerja
saat bekerja dengan mesin maka mulai dikembangkan
alat-alat pelindung diri, safety devices, dan alat-alat
pengaman lainnya.
Pada era industrialisasi yang menjadi perkemba-ngan
utama adalah mulai digunakannya mesin-mesin dalam
industri atau lingkungan kerja. Seiring dengan hal tersebut
muncul permasalahan baik aspek keselamatan maupun
aspek kesehatan sebagai dampak interaksi antara
manusia dengan mesin.
Secara keilmuan K3 konsep yang berkembang adalah
mengenai Metode-metode pengendalian bahaya
kecelakaan dan potensi gangguan keseha-tan dengan
pendekatan engineering, Administra-tive, dan
penggunaan alat pelindung diri saat bekerja.
4 Era Manajemen dan
Manajemen K3
Permasalahan K3 yang ada di lingkungan kerja ternyata
bukan semata-mata akibat dari interaksi antara pekerja,
pekerjaan dan peralatan yang digunakan. Mulai
ditelusuri faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
suatu kecelakaan atau munculnya penyakit akibat kerja
di lingkungan kerja. Ditemukan bahwa sebenarnya
faktor manusia atau pekerja terutama perilaku saat
bekerja lebih dominan sebagai penyebab terjadi-nya
kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Namun muncul fenomena baru bahwa dengan
melakukan analisa terhadap kasus-kasus yang ada
Aspek yang berkembang pada era ini adalah mengenai
upaya pengendalian kasus-kasus baik aspek keselamatan
maupun kesehatan dengan cara efisiensi penggunaan
sumber daya yang ada di suatu perusahaan. Hal ini tentu
saja harus dengan melakukan langkh-langkah manajemen
yang baik.
Atas dasar ini permaslahan K3 hanya dapat dipecahkan
dengan baik jika menggunakan pendekatan manajemen.
Serta untuk mencakup semua aspek di perusahaan maka
manajemen yang dikembangkan adalah manajemen
secara system.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000 Page 10
No Periode Latar Belakang Esensi Penalaran
4 Era Manajemen dan
Manajemen K3
ternyata aspek manajemen merupakan hulu dari segala
permasalahan yang muncul di lingkungan kerja. Oleh
sebab itu mulai dikembangkan bahwa aspek safety,
health, dan environment di lingkungan kerja harus
dimanage dalam suatu system yang terpadu sehingga
dampak yang muncul baik aspek keselamatan maupun
kesehatan dapat diminimalisir yang pada akhirnya lebih
bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja
baik aspek pekerjaan, pekerja, maupun lingkungan kerja
yang dimulai dari input, proses dan output.
Secara keilmuan K3 aspek yang berkembang pada era ini
adalah Manajemen di bidang K3 serta Integrative System
Management K3.
5 Era Mendatang Ternyata aspek K3 tidak hanya diperlukan di lingkungan
industri atau tempat kerja saja. Prasarana dan sarana
yang digunakan atau yang dimanfaat oleh masyarakat
umumpun perlu mendapatkan perhatian K3.
Permasalahan K3 tidak hanya menjadi tugas dan
tanggung jawab ahli-ahli K3, tapi sudah menjadi bagian
dari kehidupan masyarakat baik yang berada di
lingkungan kerja (formal) maupun masyarakat umum.
Oleh sebab itu arah perkembangan K3 di masa yang
akan datang lebih ditekankan kepada aspek perilaku
dengan kata lain setiap orang di setiap aktivitas mereka
sudah menerapkan prinsip-prinsip K3.
Era mendatang K3 bukan hanya bagi industri atau tempat
kerja saja tapi harus mencakup di setiap aktivitas
kehidupan manusia.
Hal ini akan dapat dicapai bila K3 sudah menjadi perilaku
dan budaya bagi setiap orang di segala aktivitas.
Aspek keilmuan yang berkembang adalah menge-nai
penarapan Prinsip-Prinsip K3 bagi Masyarakat Umum di
berbagai aktivitas seperti (Home safety, transportation
safety etc.)
Keilmuan lain yang juga akan berkembang adalah
Behavioral Based on Safety
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
III. Posisi, peran, fungsi dan tujuan serta keterkaitan masing-masing
sub disiplin keilmuan seperti : Occupational health, Safety,
Industrial hygiene, dan Ergonomik dalam Frame Keilmuan K3
Untuk membahas mengenai posisi, peran, fungsi, dan tujuan serta keterkaitan setiap sub
disiplin ilmu K3, maka pembahasan dikelompokkan menjadi 2 kelompok;
a. Definisi
Occupational Health
Occupational Health is the promotion and maintenance of the highest degree of physical,
mental and social well-being of workers in all occupations by preventing departures from
health, controlling risks and the adaptation of work to people, and people to their jobs.
(ILO/WHO)
Sedangkan menurut Frank E. Bird Jr. dalam bukunya “Practical Loss Control Leadership”
menyatakan bahwa ;
Occupational Health is devoted to the anticipation, recognition, evaluation and control of
those factors or stresses, arising in and from the workplace, which may cause sickness,
impaired health and well-being or significant discomfort and inefficiency.
Safety
Safety adalah ilmu dan seni yang terdiri dari serangkaian metoda-metoda dalam
melakukan intervensi terhadap system kerja sehingga menjamin keamanan setiap system
kerja yang dijalankan baik bagi pekerjaan, peralatan, maupun bagi lingkungan
Industrial Hygiene
Industrial hygiene has been defined as that science and art devoted to the anticipation,
recognition, evaluation and control of those environmental factors or stresses, arising in or
from the workplace, which may cause sickness, impaired health and well-being or
significant discomfort among workers or among the citizens of the community.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000
Ergonomic
Ergonomic is the science of fitting the job to the worker. (OSHA)
Ergonomic is the application of the human biological sciences in conjunction with the
engineering sciences to the worker and his working environment, so as to obtain
maximum satisfaction for the worker which at the same time enhances productivity.
Intro to OHS (K3) Hendra-2000 Page 13
b. Posisi, Peran, Fungsi dan Tujuan Sud Disiplin Keilmuan dalam Kerangka K3
Occupational Health Safety Industrial Hygiene Ergonomic
POSISI Posisi keilmuan Occupational
health berada pada
lingkup pekerja dan lebih
menekankan aspek
promosi terhadap
kesehatan pekerja
Posisi keilmuan Safety di
dalam keilmuan K3 lebih
banyak berada pada aspek
interaksi yang ada dalam
system kerja atau suatu
proses.
Posisi keilmuan Industrial
Hygiene berada pada atau lebih
konsern melihat potensi faktor
lingkunagan kerja yang
kemungkinan dapat mengganggu
kesehatan, menyebabkan
penyakit maupun menyebabkan
keti-daknyamanan bagi pekerja
Posisi keilmuan ergonomi dalam
lingkup keilmuan K3 berada pada
segala aspek baik pada keilmuan
occupational health, safety maupun
pada keilmuan industrial hygiene
PERAN Berkontribusi dalam upaya
perlindungan kesehatan
pekerja dengan
upayaupaya promosi
kesehatan, pemantauan
dan surveilan kesehatan,
serta upaya peningkatan
daya tubuh dan kebugaran
pekerja
Menciptakan system kerja
atau proses kerja yang
aman atau yang
mempunyai potensi risiko
yang rendah terhadap
terjadinya kecelakaan dan
menjaga asset perusahaan
dari kemungkinan
terjadinya loss.
Memberikan pertimbangan dan
rekomendasi untuk menentukan
performa lingkungan kerja
terhadap potensi timbulnya
penyakit, gangguan kesehatan
dan ketidaknyamanan di tempat
kerja yang diakibatkan adanya
health hazards
Peran keilmuan ergonomic adalah
memberikan masukan dan
pertimbangan terhadap keserasian
hubungan atau interaksi antara
pekerja dengan pekerjaan sehingga
memperkecil kemungkinan
timbulnya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja
TUJUAN • Mencegah terjadinya
penyakit akibat kerja
• Meningkatkan derajat
ke-sehatan pekerja
dengan melakukan
promosi kese-hatan
• Menjaga status
kesehatan dan
kebugaran pekerja pada
kondisi yang opti-mal
• Menciptakan system kerja
yang aman mulai dari
input, proses sampai out
put
• Mencegah terjadinya
kerugian (loss) baik moril
maupun materil akibat
terjadinya
accident/incident
• Melakukan pengendalian
terhadap risiko yang ada
di tempat kerja
• Menciptakan lingkungan kerja
yang aman dan sehat dari
bahaya health hazard
• Menciptakan interaksi semua
sub di perusahaan dalam
interaksi yang sehat dan tidak
berdampak terhadap
penurunan derajat kesehatan
atau adanya ketidaknyamanan
• Mencegah timbulnya
Cummulative Trauma Disorders
yang diakibatkan oleh posisi kerja
yang tidak baik
• Mencegah kerugian akibat
timbulnya cidera maupun
kesalahan karena ketidakserasian
antara pekerja dengan
pekerjaannya.
• Secara tidak langsung
meningkatkan produktivitas kerja
Intro to OHS (K3) Hendra-2000 Page 14
Occupational Health Safety Industrial Hygiene Ergonomic
FUNGSI • Identifikasi dan assess-ment risikorisiko
dari health hazards di tempat
kerja
• Advising pada perencanaan dan
pengorganisa-sian pekerjaan dan
work-ing practices, termasuk disain
tempat kerja. Pada evaluasi
memilih dan me-melihara
peralatan dan material yang
digunakan. Juga melakukan
promosi terhadap adaptasi pekerjaan
dengan pekerja
• Memberikan advise, informasi,
training dan edukasi tentang
occupati-onal health, safety and
hygiene, ergonomic and protective
equipment
• Melaksanakan surveilan terhadap
kesehatan pekerja
• Berkontribusi dalam reha-bilitasi
• Mengelola pertolongan pertama
dan tindakan kedaruratan.
• Anticipate, identify and
evaluate hazardous conditions
and practices
• Develop hazard control
design, methods, procedures
and program
• Implement, administer and
advise others on hazard
controls and hazard con-trol
programs
• Measure, audit and evaluate
the effectiveness of
hazard controls and hazard
control programs
• Melakukan Antisipasi
terhadap health hazards
di lingkungan kerja
• Melakukan Rekognisi
ter-hadap health hazards
di lingkungan kerja
• Melakukan Evaluasi
terhadap health hazards
di lingkungan kerja
• Melakukan
Pengendalian terhadap
health hazards di
lingkungan kerja
• Menciptakan disain
lingkungan kerja yang
sesuai dengan pekerja
baik aspek fisiologis
maupun aspek psikologis
• Menciptakan keserasian
hubungan antara pekerja
dengan pekerjaan dan
lingkungan kerja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar